Kemenag RI Perkenalkan Metode BRUS untuk Tekan Angka Pernikahan Anak yang Makin Tinggi

Kemenag RI Perkenalkan Metode BRUS untuk Tekan Angka Pernikahan Anak yang tersebut Makin Tinggi

Rodafakta.com – JAKARTA – Derajat pernikahan anak pada Indonesia semakin mengkhawatirkan. Kemenag berupaya menekannya dengan menerapkan metode BRUS.

Metode yang dimaksud diperkenalkan oleh Kemenang pada perayaan Hari Amal Bhakti ke-78 Kementerian Agama, Hari Minggu (7/1/2024), di area Ibukota Indonesia Convention Center, Senayan, Jakarta. Dalam acara yang disebutkan Kemenang mengatur acara bertajuk Bimbingan Remaja Usia Sekolah Plus (BRUS+) yang diinisiasi oleh Ditjen Bimas Islam.

Acara bertema “Siapkan Masa Depanmu, Rencanakan Nikahmu” semakin menarik dengan menghadirkan beberapa orang public figure seperti Arafah Arianti, Zaskia Adya Mecca, Husein Hadar yang lebih lanjut dikenal dengan sapaan Habib Ja’far, lalu Instruktur BRUS Kemenag Paman Dodo.


Dalam acara yang sama, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kemenag Agus Suryo Suripto membenarkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan bilangan pernikahan anak yang tinggi. Menurutnya, Kemenag melakukan upaya yang mana kritis untuk menekan nomor pernikahan anak di area Indonesia.

Konsep BRUS, menurut dia, merupakan upaya edukasi untuk remaja usia sekolah agar mampu menyiapkan masa depan sebaik-baiknya. Lewat kegiatan itu remaja dibekali dengan upaya-upaya penguatan karakter lalu kesadaran pengelolaan kepribadian yang mana baik. Nantinya generasi muda bisa jadi mempunyai kemampuan mengatur diri juga lingkungan agar tidak ada terjebak pada lingkungan sosial juga pergaulan bebas.

Agus Suryo Suripto juga memohon partisipan BRUS+, yang dimaksud terdiri dari siswa-siswi SMA se-Jabodetabek, untuk melakukan persiapan yang mana matang sebelum menikah. Menurutnya, dua aspek penting yang dimaksud perlu dipersiapkan sebelum menikah adalah kesadaran di menjalankan diri dan juga penguatan keagamaan.

“Pertama, persiapkan masa depan dengan mendirikan kesadaran di pengelolaan diri, setiap remaja mempunyai peluang diri harus bisa jadi dikembangkan. Generasi muda punya masa depan yang digunakan harus diperjuangkan. Kedua, perkuat lembaga pendidikan agama, lantaran agama merupakan benteng dari pergaulan kemudian lingkungan sosial yang tersebut tak baik,” terangnya.

Baca juga:  Berada di tempat Tengah Perkantoran, Alasan Masjid Istiqlal Gunakan Speaker Dalam Sejak Dulu

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, bilangan bulat perkawinan anak di tempat Indonesia tahun 2023 sebesar 9,23 persen atau 163.371 insiden nikah anak. Artinya 1 dari 9 perempuan menikah pada waktu usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki, di area mana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah pada waktu usia anak.


Berdasarkan data dari Pengadilan Agama, pengajuan dispensasi perkawinan anak terjadi akibat tiga hal yaitu hamil sebelum nikah, kedua calon pasangan sudah melakukan hubungan sebagaimana layaknya suami isteri, serta hubungan kedua belah pihak (pasangan) terlalu dekat, sehingga dikhawatirkan terjadi perbuatan terlarang (zina).

Kajian akademik lain juga menyebutkan bahwa faktor faktor kawin anak adalah hamil sebelum nikah, faktor sosial, faktor ekonomi, pengaruh tokoh agama juga tokoh masyarakat, juga pembenaran naskah-naskah agama.

Hal-hal yang disebutkan menunjukkan bahwa edukasi bagi remaja, khususnya remaja usia sekolah, diperlukan agar mampu menjalankan kepribadian dan juga karakter kuat agar tiada terpengaruh lingkungan sosial yang buruk juga terjebak pada pergaulan yang tersebut salah. Remaja perlu dibekali dengan investasi sekolah keagamaan yang kuat, lingkungan sosial yang dimaksud baik, agar mampu merencanakan masa depan yang gemilang dengan merencakan waktu perkawinan yang tersebut tepat.

(Sumber:SindoNews)