Ibukota Punya LEZ, London Gunakan ULEZ

Ibukota Punya LEZ, London Gunakan ULEZ

Rodafakta.com – Upaya menurunkan kadar emisi kendaraan bermotor diberlakukan di tempat berbagai kota di dalam dunia.

Contohnya adalah London, ibu kota England sekaligus Britania Raya. Selain menerapkan zona rendah emisi atau Low Emission Zone, di tempat titik tertentu juga diperkuat dengan Ultra Low Emission Zone (ULEZ) sehingga kawasan sanggup menjadi tempat lebih lanjut ramah bagi pejalan kaki. Apalagi para wisatawan yang digunakan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelajahi bagian kota sembari berfoto-foto.

Di Jakarta, juga telah lama diterapkan LEZ yang dimaksud bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara ibu kota Republik Indonesia.

London (Pexels.com/Pixabay)
London, kawasan House of Parliament lalu Westminster Bridge termasuk kawasan LEZ [Pexels.com/Pixabay]

Dikutip dari kantor berita Antara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI DKI Jakarta memperluas kawasan rendah emisi atau LEZ, lewat penjelasan Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Ibukota Indonesia yang digunakan menyatakan bahwa perluasan LEZ ditetapkan berdasarkan  Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 576 Tahun 2023 tentang Strategi Pengendalian Pencemaran Udara.

“Kepgub ini mengatur kajian terkait kriteria kawasan rendah emisi, penyusunan peraturan terkait kriteria kawasan rendah emisi, kemudian penetapan lokasi Kawasan Bebas Kendaraan Bermotor (permanen),” papar Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Saat ini, Ibukota memiliki dua LEZ, yaitu berlokasi di tempat Kawasan Perkotaan Tua Ibukota serta Tebet Eco Park sebagai percontohan.

“Ke depan, gagasan mengenai kawasan rendah emisi akan semakin diperdalam dengan mengedepankan prinsip inklusivitas juga manfaatnya mampu dirasakan secara maksimal oleh warga, ” lanjut Asep Kuswanto.
 
Dalam mewujudkan misi perluasan kawasan rendah emisi itu, DLH DKI bersinergi dengan Dinas Perhubungan DKI Ibukota Indonesia dengan memperhatikan keinginan mobilitas warga sehari-hari, memperhitungkan faktor kenyamanan, kesehatan, kemudian keamanan pengguna. Juga dibantu berbagai pihak. Salah satunya perkumpulan Clean Air Catalyst (Catalyst), yang dimaksud didukung USAID kemudian dilaksanakan WRI Indonesia, Vital Strategies, juga ITDP Indonesia.

Baca juga:  DKI Jakarta Punya LEZ, London Gunakan ULEZ

“Kami berharap, dengan perluasan kawasan rendah emisi, Pusat Kota Ibukota Indonesia naik kelas menuju kota global dengan kualitas udara yang digunakan semakin membaik,” lanjut Asep Kuswanto.
 
Satya Utama, Manajer Rencana Clean Air Catalyst menyatakan antusias diberi kesempatan untuk bekerja sejenis dengan DLH lalu Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
 

“Clean Air Catalyst berperan untuk mengoptimalkan desain kemudian pelaksanaan kawasan rendah emisi yang tersebut lebih besar inklusif, mengikutsertakan aspirasi, juga keperluan masyarakat. Sehingga dapat mewujudkan visi kawasan rendah emisi yang mana tidak ada belaka menurunkan dampak polusi udara, juga menyejahterakan warga,” kata Satya Utama.
 
Dipaparkannya seputar masukan dari beberapa anggota warga di area sekitar Kawasan Rendah Emisi (KRE) di tempat area Daerah Perkotaan Tua.

“Dari sana kami mempelajari bahwa pengerjaan kawasan rendah emisi pada satu sisi miliki dampak yang dapat mempengaruhi tingkat kepadatan kendaraan di dalam dekat permukiman warga, dalam mana jalan-jalan dijadikan sebagai jalan alternatif untuk menghindari KRE, yang dimaksud alih-alih memberi manfaat, justru mengakibatkan tantangan baru dalam sektor kondisi tubuh lalu keamanan, ” tukasnya.

Tantangan baru tentang ruas alternatif atau kerap disebut jalan tikus inilah yang mesti menjadi pemahaman dengan bahwa hadirnya LEZ serta KRE adalah untuk menurunkan emisi gas buang, tidak memindahkannya sementara.

(Sumber: Suara.com)